PERJUANGAN PEMIKIRAN EKONOMI

Meskipun bukan jebolan “department of economics”, ada dua hal yang langsung terlintas dalam pemikiran ketika membaca tulisan Prof Mubyarto (Kompas, Jumat 11 Juli 2003).  Pertama, pengalaman memberi kuliah Sejarah Pemikiran Ekonomi pada Pascasarjana IPB; dan kedua, apa yang disebut sebagai Millenium Development Goal (MDG) dan Human Development Report 2003 yang diulas panjang lebar oleh Kompas, 10 – 11 Juli 2003.

Dalam sejarah pemikiran ekonomi tercatat suatu rangkaian perjuangan pemikiran ekonomi, bahkan rangkaian usaha untuk “saling mengalahkan” dalam pemikiran ekonomi.  Sejak awal pencatan sejarah dan sejak usaha pemenuhan kebutuhan hidup menjadi bagian dari kegiatan manusia, pemikiran ekonomi telah diwarnai oleh perjuangan tersebut.  Mulai sejak jaman Yunani Kuno yang menempatkan ekonomi sebagai bagian dari filsafat, pemikiran ekonomi terus berkembang meski lambat hingga jaman Merkantilisme atau jaman Perdagangan dan Para Pedagang.  Berikutnya ditawarkan pemikiran para Physiokrasi yang membela pertanian.  Lalu lahir karya penting Adam Smith “Kekayaan Bangsa-bangsa (The Wealth of Nations)” – yang sering dengan tidak bertanggung jawab dipisahkan dari karya Smith lainnya “The Moral Sentiments” – yang kemudian menjadi awal dari pemikiran ekonomi klasik.  Smith mendapat banyak dukungan tetapi juga menuai tentangan.  Tentangan terbesar mungkin datang dari pemikiran sosialisme dan Marxisme.  Pemikiran lain yang juga berbeda dengan aliran ekonomi klasik adalah pemikiran aliran Keynes yang lahir sebagai respon atas anggapan kegagalan ekonomi klasik mengatasi permasalahan ekonomi akut seperti pengangguran.  Lalu berkembang pula pekiran-pemikiran neo-klasik, institusional, monetaris, dan seterusnya hingga saat ini.  Pencatatan sejarah ekonomi itupun dianggap belum lengkap karena belum memasukkan perkembangan pemikiran ekonomi Islam dan pemikiran ekonomi Asia Timur yang memiliki cara berpikir tersendiri.

Pelajaran yang didapat dari sejarah ekonomi adalah bahwa tidak ada pemikiran yang memiliki kebenaran mutlak dan memiliki kelengkapan mutlak dalam menjelaskan fenomena ekonomi.  Dalam perjalanan sejarah suatu pemikiran ekonomi hampir selalu pernah dan akan menghadapi situasi dimana pemikiran tersebut tidak dapat digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena ekonomi dalam masyarakat.  Jika terjadi suatu fenomena ekonomi dalam masyarakat dan fenomena itu “tidak atau belum” tercakup dalam buku teks ekonomi, maka bukan berarti fenomena ekonomi itu yang “salah” tetapi mungkin karena buku teks itu memang belum lengkap dan kurang ‘up-to-date’.  Itulah sebabnya selalu ada buku ekonomi baru dan buku teks ekonomi edisi baru.

Hal yang dapat ditarik pelajaran dari proses sejarah tersebut adalah bahwa perbedaan-perbedaan pemikiran yang terjadi sering kali sangat mendasar dan bersifat diametral.  Namun ditengah perdebatan sengit itu ternyata tidak ada pemikiran yang steril.  Artinya tidak ada pemikiran yang bebas – dan dapat membebaskan diri – dari pemikiran yang dikembangkan orang lain, termasuk pemikiran mereka yang menentangnya.  Bahkan pemikiran yang bertahan melewati jaman adalah pemikiran yang secara objektif bisa melihat kebenaran dari pemikiran yang berbeda membangun “sintesa” atas “anti-tesa” yang diterima oleh “tesis” yang diajukan sekaligus terus tumbuh berkembang saling melengkapi, disamping tentu harus memiliki kemampuan penjelasan dan kelengkapan yang memadai.  Hanya saja memang perbedaan cara berpikir itu ternyata tidak kemudian hilang. Pemikiran baru terus berkembang, dan beberapa diantara perbedaan pemikiran bahkan menguat dan perdebatannya juga ada yang berlangsung makin sengit.

Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mereka yang saling berbeda pendapat terus berusaha memperjuangkan pemikirannya sehingga pemikiran itu kemudian dapat dipergunakan oleh mereka yang berkepentingan.  Konsistensi dan integritas pemikiran dipertaruhkan dalam perjuangan itu, walaupun kadang jalan yang dilalui harus mendaki, berbatu, dan berliku; penuh dengan ejekan bahkan pelecehan.   Dan kemudian bersabar serta membangun keyakinan bahwa jika pemikiran yang ajukan sesuai dengan apa yang dihadapi manusia dan kemanusiaan maka pengaruhnya cepat atau lambat akan terasa.

Hal itu yang kemudian mengingatkan kepada Millennium Developmenty Goals atau MDG yang mencakup delapan tujuan yang ingin dicapai oleh 189 negara anggota PBB, termasuk Indonesia; yaitu (1) mengurangi kemiskinan dan kelaparan; (2) memastikan agar setiap anak dapat memperoleh pendidikan dasar; (3) mempromosikan ekualitas gender dan pemberdayaan perempuan; (4) mengurangi tingkat kematian anak; (5) meningkatkan kesehatan ibu; (6) memerangi penyakit menular seperti HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain; (7) memastikan kelestarian lingkungan; dan (8) membangun kerjasama internasional dalam pembangunan.  Jelas bahwa MDG bukan merupakan rumusan target ekonomi “konvensional” seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, investasi, atau neraca pembayaran.  MDG memiliki dimensi yang lebih menyentuh aspek manusia, masyarakat dan kemanusiaan.

Oleh sebab itu apa yang dikemukakan dalam MDG akan sangat mudah diasosiasikan setidaknya dengan perjuangan mewujudkan sila kedua Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dan sila ke lima Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia dari Pancasila.  Oleh sebab itu sangat tepat apa yang dikemukan Kwik Kian Gie dan Erna Witoelar dalam ‘launching’ Human Development Index 2003 bahwa kalau Indonesia mendukung MDG bukan karena itu merupakan rumusan PBB tetapi karena memang keinginan Indonesia sendiri.  Dan jika 188 negara lainnya juga mendukung MDG maka tentu bukan mustahil jika kedua sila dari Pancasila diatas ternyata juga diakui oleh negara-negara itu, meskipun tidak harus dengan rumusan kalimat yang sama.

Yang menarik adalah bahwa MDG diakui oleh PBB, juga organ-organnya seperti UNICEF dan UNDP, dan tampaknya juga didukung oleh Bank Dunia, ADB, bahkan IMF.  Artinya, ekonom-ekonom yang ada di lembaga-lembaga ternama itu tentu juga telah mengakui bahwa aspek manusia, masyarakat, dan kemanusiaan yang terkandung dalam MDG – atau dengan perkataan lain, sedikit atau banyak nilai-nilai yang terkandung dalam sila Kemanusiaan dan Keadilan Sosial dari Pancasila juga mereka akui, sekali lagi mungkin dengan urutan kata-kata yang berbeda.  Bahwa aktualisasinya banyak yang masih berbeda-beda, itu adalah tantangan lebih lanjut yang harus diperjuangkan.  Setidaknya “benih pemikiran” sudah ditanamkan, dan berprospek untuk terus ditumbuh-kembangkan.  Tujuan sudah serupa walau cara mungkin masih sangat berbeda.

Selamat terus berjuang dalam ‘palagan’ pemikiran ekonomi Pak Muby. Perjuangan tampaknya masih berat dan panjang karena banyak yang lain juga terus memperjuangkan pemikiran ekonominya masing-masing.  Bagaimanapun hasilnya, yang penting adalah semoga hasil itu memberi kesejahteraan yang bermartabat bagi manusia dan kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: